LAMONGAN, Reportase INC – Secara umum Indonesia berjuluk negara agraris. Tanahnya strategis sebagai media bercocok-tanam. Ini punya potensi (nilai besar) dalam sektor pangan. Namun sayang disayang seribu sayang. Masih mengandung simpanan serius antara lain berupa ketergantungan pada teknik penyaluran, tingginya permodalan (terutama bidang logistik), harga tidak stabil, dan rendahnya kwalitas beras.
Maka Yayasan Rasyidin Adrai Yatalatop memberi andil/solusi. Prinsip yang dilaluinya adalah upaya hasil guna, tepat nyata. Program-program di dalamnya minimal membantu pemerintah dalam memperbaiki ketahanan gizi nasional. Setidaknya materi-materi termaksud disampaikan kepada para ketua kelompok tani desa Patihan, kecamatan Babat (Senen, 24 Nopember 2025).
Pembina kelompok tani setempat, Esti Faizah, SP sekaligus sebagai petugas penyuluh pertanian berdinas di wilayah ke kecamatan Babat, mengungkapkan, sejatinya para petani itu sudah kadung menancap dibenaknya, bahwa pupuk organik itu sangat lambat proses kerjanya. “Sehingga masih banyak petani yang menggunakan pupuk kimia. Kami sudah sering mengedukasi kepada para petani binaan kami. Tapi bagaimana lagi, wong rupa-rupanya masyarakat masih sangat fanatik dengan pupuk kimia” keluh Esti si owner Rumah Sorgum Indonesia bermarkas di kampung Sawo itu.
Adapun program-program yang dikembangkan Yayasan Rasyidin Adrsi antara adalah E-PADI (Ekonomi Padi Digital Indonesia). Ini merupakan platform terintegrasi memutus mata rantai pasok distribusi, menghubungkan petani dengan gudang digital, logistik, dan konsumen akhir.
Yayasan didirikan Afiah Rospiatin, M.PdI dan Drs.Taofik Hidayat, M.Si itu bergerak di bidang pendidikan, agama dan sosial. Segala perijinan dan proposal diterima kantor dinas pertanian kabupaten Lamongan. Obyek sosialisasinya di kecamatan Babat, sudah dimulai bulan September 2025 dan akan berakhir sekitar Desember dalam tahun yang sama.
Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Babat, melalui petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapang)nya, Esti Faizah, SP siap mendampingi dan mengantarkan ke lokasi yang dibidik yakni desa Patihan. Rencananya sebagai pilot projek. Lamongan dijadikan sebagai sasaran pertamakali. Menurut penuturan Esti memaparkan : “Apalagi sudah akrab dan punya link dengan Prof.Hariyanto, pencetus kawasan organik” ungkap petugas PPL Babat kepada reporter media ini.
Lokasi penyuluhan balai desa Patihan. Jumlah audiensnya sekitar 50 orang terdiri atas anggota kelompok tani sedesa Patihan didampingi petugas penyuluh pertanian kecamatan Babat, Priyo Wibowo. Setelah memberi penguatan di desa Patihan, Yayasan beralamat di Bogor itu akan menggelar acara dan menyampaikan materi yang sama, di desa Pucakwangi. “Kenapa kami membidik Lamongan? Karena Lamongan di bidang pertanian sudah terbaca di tingkat nasional dengan sukses panen jagung 1 hektar mencapai 16 ton. Ini prestasi luar biasa…” tutur juru bicara yayasan, Afiah Rospiatin kepada reporter media online ini.
Kades (Kepala Desa) Patihan, Hasan Siswanto dalam sambutannya sangat mendukung dengan gembira ajakan kerjasama dengan Yayasan yang baru dikenalnya itu. “Semoga dengan hadirnya yayasan dan uraian dari Bu Afiah ini nanti dapat menambah wawasan kepada warga dan petani Patihan” kata orang nomor 1 di desa Patihan tersebut. “Makanya siang terik panas ini kita niati mencari ilmu…” lanjut Pak Kades di hadapan warganya.
Reporter : Ahmad Fanani Mosah.














