LAMONGAN, Reportase INC – Kondisi pendidikan di tingkat menengah atas di Kabupaten Lamongan tengah menjadi sorotan tajam.
Khofifah kini menghadapi kritik mengenai sejauh mana kebijakan politiknya berpihak pada basis massa yang membesarkannya. Isu ini mencuat seiring dengan minimnya keterwakilan kader Nahdlatul Ulama dalam jajaran kepemimpinan sekolah di wilayah tersebut.
Menurut keterangan Nursalim selaku aktifis di Lamongan mengatakan: “Berdasarkan data saat ini, dari total 37 sekolah menengah atas dan kejuruan negeri yang tersebar di seluruh Kabupaten Lamongan, tercatat hanya delapan kepala sekolah yang diidentifikasi sebagai kader Nahdlatul Ulama. Angka ini dinilai sangat timpang mengingat Lamongan merupakan salah satu lumbung warga nahdliyin di Jawa Timur. Ketimpangan ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas kepemimpinan Khofifah dalam memberdayakan potensi kader di bidang akademik, khususnya dalam manajemen sekolah negeri yang berada di bawah kewenangan langsung pemerintah provinsi”.
Masih kata Nursalim : Khofifah seolah tidak mampu mendominasi atau setidaknya memberikan ruang yang proporsional bagi kader-kader potensial dari kalangan NU untuk eksis dan memimpin lembaga pendidikan negeri.
Situasi ini menjadi ironis mengingat latar belakang Khofifah Indar Parawansa yang sangat kental dengan identitas organisasi. Beliau bukan hanya seorang Gubernur, melainkan juga tokoh sentral di Muslimat NU serta menjabat sebagai salah satu pengurus di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Dominasi identitas ini pada awalnya diharapkan mampu membawa perubahan signifikan bagi distribusi peran warga NU di ranah birokrasi dan akademik.
Kini, publik dan warga nahdliyin di Lamongan mulai mempertanyakan komitmen gubernur dalam mengawal regenerasi kepemimpinan di sektor pendidikan. Kegagalan dalam membawa kader untuk eksis di bidang akademik ini dikhawatirkan akan menggerus kepercayaan basis massa terhadap kepemimpinan Khofifah. Tanpa adanya evaluasi terhadap mekanisme penetapan pejabat sekolah, posisi Khofifah sebagai tokoh besar NU akan terus dibayangi oleh persepsi bahwa jabatannya saat ini kurang memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan kompetensi dan posisi strategis kader di akar rumput.
(Had/red)













