LAMONGAN, Reportase INC – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di SPPG German, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, kini tengah menjadi sorotan tajam. Pada Rabu, 4 Maret 2026, salah satu orang tua siswa menyampaikan keluhannya kepada tim kami terkait kualitas makanan yang dibagikan kepada anak-anak. Menurut penuturannya, sajian yang diterima para siswa dinilai sangat jauh dari kata layak, apalagi untuk disebut sebagai hidangan yang memenuhi standar gizi bagi pertumbuhan anak sekolah.
Kenyataan di lapangan menunjukkan menu yang diberikan hanya berupa beberapa butir tahu krispi berukuran kecil, satu buah jeruk, dan satu kotak susu ukuran 115 ml. Hal ini memicu kritik pedas karena susu kotak seharusnya hanya menjadi pelengkap, bukan bagian dari komponen utama yang menggantikan asupan protein dan karbohidrat yang mengenyangkan. Komposisi ini dianggap tidak sebanding dengan semangat program yang digaungkan oleh pemerintah untuk mencetak generasi sehat.
Kondisi tersebut semakin memprihatinkan jika melihat sumber daya yang ada. Beberapa tokoh masyarakat turut menyoroti efektivitas kerja puluhan karyawan SPPG German. Mereka mempertanyakan apa sebenarnya yang dikerjakan oleh staf sebanyak itu jika hasil akhirnya hanya menu sederhana yang bahkan tidak memerlukan proses memasak rumit. Apalagi, distribusi makanan tidak lagi menggunakan wadah empreng, sehingga tidak ada agenda mencuci peralatan makan yang seharusnya menyita waktu kerja.
Ketimpangan antara jumlah tenaga kerja dengan kualitas menu yang dihasilkan memunculkan tanda tanya besar mengenai manajemen operasional di lembaga tersebut. Para orang tua berharap ada evaluasi serius dari pihak terkait agar anggaran program benar-benar terserap untuk nutrisi anak, bukan sekadar pemenuhan formalitas yang mengecewakan. Jika hal ini dibiarkan, kekhawatiran akan terjadinya malnutrisi di tengah program bantuan pangan justru menjadi ancaman nyata bagi siswa di wilayah Sugio.
(Ade Rahmad S)













