LAMONGAN, Reportase INC – 03 April 2026 – Kondisi tempat pembuangan akhir atau TPA Tambakrigadung Lamongan saat ini benar-benar mengkhawatirkan karena tumpukan sampah di sana terpantau semakin meluas. Pada 3 April 2026 sekitar jam 11 siang tim mengunjungi TPA untuk melihat langsung bagaimana keadaan di lapangan yang kabarnya mulai tidak terkendali.
Sampah yang dulunya sudah parah dari segi ketinggian, kini kondisinya justru kian melebar. Tumpukan yang awalnya berada ditempat yang sudah diatur oleh DLH Kabupaten Lamongan, kini semakin meluas hingga memakan jalan akses masuk kurang lebih 30 meter sebelum tempat penuangan sampah dari kendaraan pengangkut. Hal ini tentu menghambat mobilitas kendaraan yang hendak membuang muatan dan menciptakan pemandangan yang semrawut di area pintu masuk.
Saat meninjau lokasi, kami mewawancarai salah seorang pegawai di TPA dan beberapa pemulung yang setiap hari menggantungkan hidup di tumpukan sampah tersebut. Berdasarkan keterangan mereka, situasi ini bukan terjadi dalam semalam. Setelah diwawancarai pemulung berkata “Sudah lama kondisinya seperti ini, mungkin sebulan lebih”.
Keterangan senada juga didapatkan dari pihak internal pengelola tempat tersebut. Pegawai yang kala itu menjaga jembatan timbang berkata “Bukan Alatnya rusak, bukan juga ada penambahan sampah masuk, Sempat telat BBM armada sehingga memperparah penumpukan, kondisi ini sudah berbulan bulan”. Ironi ini membuat kami tercengang dan semakin penasaran tentang berapa banyak sampah masuk dan berapa yang dikelola secara maksimal setiap harinya.
Masalah utama tampaknya terletak pada ketimpangan antara volume sampah yang datang dengan kapasitas pengolahan yang tersedia. Menurut petugas di lapangan, “Sampah masuk banyak mungkin puluhan bahkan ratusan ton/hari dan dibuang kesini semua”. Angka yang fantastis ini jelas membebani kapasitas lahan TPA Tambakrigadung yang kian menyusut.
Upaya untuk mencari jalan keluar sebenarnya sudah dilakukan melalui jalur birokrasi, namun hasilnya masih nihil. Kami sempat menanyakan apa sudah pernah dibahas dalam rapat, “ya sudah sering, tapi solusinya belum ada yang pasti, ada yang katanya mau dikirim ke surabaya, ada pembangunan Reaktivasi TPST Samtaku itu saja katanya hanya bisa mengelola 15 Ton saja” jawabnya.
Dengan kapasitas TPST Samtaku yang hanya mampu menyerap 15 ton, tentu angka tersebut sangat jauh dari kata cukup untuk menangani ratusan ton sampah yang masuk setiap hari. Jika tidak segera ditemukan solusi yang konkret dan cepat, jalan akses masuk TPA terancam akan tertutup total oleh gunungan sampah yang terus meluap. Kondisi ini menjadi rapor merah bagi manajemen pengelolaan limbah di Kabupaten Lamongan yang hingga kini masih terjebak dalam janji-janji reaktivasi tanpa kepastian nyata di lapangan.
(Ade Rahmad)
















