GRESIK, Reportase INC – Kondisi fasilitas publik di lingkungan penyedia layanan kesehatan kembali menjadi sorotan tajam. Sebagai salah satu institusi medis milik pemerintah yang seharusnya menjadi tolok ukur kenyamanan dan sterilitas, RSUD Ibnu Sina Gresik justru menunjukkan pemandangan yang kontras. Berdasarkan pantauan langsung tim jurnalis Reportase pada Senin pagi sekitar pukul 11.00 WIB, sejumlah fasilitas inti di gedung tersebut tampak terbengkalai dan jauh dari kata layak bagi pengunjung maupun pasien.
Perjalanan menelusuri ketidaksiapan fasilitas ini dimulai sejak langkah pertama memasuki lift menuju lantai atas. Pengalaman pengguna yang seharusnya berjalan mulus justru terganggu oleh suara derit pintu lift yang memekakkan telinga, memberikan kesan kuat akan kurangnya perawatan mekanis secara rutin. Begitu melangkah masuk ke dalam kabin lift, suasana pengap langsung menyergap. Tidak ada aroma kesegaran atau sirkulasi udara yang baik; yang tercium hanyalah aroma mesin yang pekat, menciptakan rasa tidak nyaman bagi siapa pun yang berada di dalamnya.
Pemandangan yang lebih memprihatinkan tersaji saat kaki melangkah keluar dari lift di lantai 2 dan 3. Pandangan pengunjung langsung tertuju pada deretan unit penyejuk udara atau AC yang kondisinya sangat tidak terawat. Di beberapa titik, terlihat bak sampah kecil sengaja diletakkan di bawah unit AC untuk menampung tetesan air, sebuah indikasi kuat adanya kebocoran yang dibiarkan tanpa perbaikan permanen. Jika mendongak ke arah langit-langit, pemandangan justru semakin buruk. Area di sekitar instalasi AC tersebut tampak dipenuhi bercak menyerupai lumut yang menghitam di bagian plafon. Kondisi ini terpantau merata mulai dari lantai 3 hingga lantai 2, bahkan merambah hingga ke area langit-langit di dalam ruang rawat inap pasien.
Fokus pengamatan di lantai 2 mengungkap lebih banyak ketidakteraturan. Fasilitas sanitasi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan rumah sakit justru dalam kondisi mengenaskan. Toilet pengunjung tampak kumuh dan tidak sedap dipandang mata. Tidak jauh dari sana, di area tempat wudhu depan mushola, terdapat tiga keran air yang disediakan, namun satu di antaranya dalam kondisi rusak dan tidak bisa digunakan. Ironi lain ditemukan pada kampanye kesehatan yang terpampang di dinding. Terdapat tulisan yang mengajak pengunjung untuk hidup sehat dengan naik tangga, namun secara bersamaan, akses tangga tersebut justru disegel dengan tanda pemberitahuan bahwa jalur tersebut tidak dapat dilewati.
Kenyamanan ruang tunggu yang menjadi tempat beristirahat keluarga pasien juga luput dari perhatian manajemen. Di lantai 2, ditemukan bangku ruang tunggu yang kondisinya sudah rusak parah. Material pembungkus bangku tampak robek dan berlubang hingga memperlihatkan bagian spons di dalamnya yang sudah tercabik-cabik. Selain kerusakan fisik, aspek transparansi informasi medis juga dipertanyakan. Papan indikator mutu rumah sakit yang seharusnya diperbarui secara berkala sebagai bentuk akuntabilitas publik, masih menampilkan data lama dari tahun 2022.
Selama lebih dari satu jam tim melakukan observasi berkeliling gedung, ada satu hal yang dirasa sangat ganjil. Berbeda dengan standar rumah sakit pada umumnya di mana petugas kebersihan atau cleaning service sering terlihat berlalu lalang menjaga higienitas area, di RSUD Ibnu Sina tim tidak menjumpai satu pun petugas yang bekerja.
Kerusakan fasilitas air juga terlihat pada unit wastafel yang kini hanya menjadi pajangan. Salah satu wastafel diberikan tanda larangan penggunaan dengan kondisi keran yang dililit solatip secara kasar. Melihat tumpukan debu dan kondisi solatip yang mulai mengeras, nampaknya kerusakan ini bukanlah masalah baru yang terjadi dalam hitungan hari, melainkan pembiaran yang sudah berlangsung lama.
Beralih ke lantai 3, pemandangan berantakan terlihat dari keberadaan booth protokol yang tampaknya merupakan sisa-sisa dari masa pandemi Covid-19. Fasilitas yang seharusnya sudah dibongkar atau disimpan dengan rapi ini dibiarkan begitu saja di sudut ruangan. Kondisinya pun sangat buruk, dengan cover plastik pelindung yang sudah sobek-sobek dan menggantung tidak beraturan, menambah kesan kumuh pada estetika interior rumah sakit.
Rangkaian temuan ini menghadirkan sebuah ironi besar bagi dunia kesehatan di Kabupaten Gresik. Sebagai rumah sakit milik pemerintah yang menjadi tumpuan masyarakat luas, RSUD Ibnu Sina seharusnya mampu menyajikan visualisasi dan fasilitas yang memadai. Fasilitas inti yang bersentuhan langsung dengan kenyamanan dan keselamatan pasien seolah kehilangan fungsinya akibat minimnya perawatan. Padahal, aspek-aspek fisik seperti kebersihan plafon, kelayakan bangku, hingga fungsi wastafel adalah standar dasar yang seharusnya bisa terjaga dengan baik tanpa harus menunggu kerusakan menjadi masif.
Kondisi ini memerlukan evaluasi mendalam dari pihak manajemen rumah sakit maupun pemerintah daerah. Pelayanan kesehatan bukan hanya soal tindakan medis di dalam ruang operasi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah institusi menghargai martabat pasien dan pengunjung melalui penyediaan fasilitas publik yang manusiawi, bersih, dan terawat.
(Ade Rahmad S)













