LAMONGAN, Reportase INC – Darah perjuangan yang mengalir di tanah Lamongan bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan api yang pernah menghanguskan ketundukan dan menggantinya dengan martabat. Diskusi budaya yang digelar gerakan Lamongan Tangi hari ini di Jalan Kinameng bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan sebuah upaya radikal untuk menjemput kembali keberanian yang sempat terkubur oleh narasi sejarah yang dilemahkan. Melalui narasumber Supriyo, kita diingatkan bahwa identitas Lamongan ditempa dari bara api Karang Abang dan keteguhan hati para tumenggung yang memilih pengasingan daripada penghinaan.
Sejarah mencatat bahwa pada awal abad ke-18, Lamongan bukanlah wilayah yang mudah didikte. Di bawah kepemimpinan Panji Surengrana, Bupati Lamongan ke-6 yang merupakan keturunan langsung ulama besar Ki Ageng Brondong, daerah ini menjadi basis perlawanan yang paling diperhitungkan oleh kolonial. Garis keturunan dari pesisir Brondong ini membuktikan bahwa spiritualitas dan patriotisme adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kehadiran dinasti ini di Botoputih hingga Lamongan menegaskan sebuah kekuasaan yang berakar pada rakyat, bukan pada restu kompeni.
Peristiwa Karang Abang pada tahun 1721 adalah bukti otentik betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan. Ketika VOC mencoba mencengkeramkan kuku kekuasaannya lewat dikte terhadap Mataram, Panji Surengrana memilih jalan pedang. Bersama Adipati Jayapuspita, ia menjadikan Lamongan sebagai benteng terakhir kehormatan Jawa Timur. Akibatnya, kota ini dibakar hingga rata dengan tanah, menjadi lautan api yang memerah. Namun, dari abu pembakaran itulah semangat Lamongan lahir. Karang Abang bukan tentang kekalahan, melainkan tentang kerelaan untuk kehilangan segalanya demi sebuah prinsip yang tak bisa ditawar.
Semangat revolusioner Panji Surengrana tidak berhenti meski kota telah menjadi arang. Perlawanan gerilya di hutan-hutan selatan hingga aliansi militer dengan prajurit Buleleng menunjukkan visi strategis yang melampaui batas wilayah. Penangkapan dan pengasingannya ke Colombo, Sri Lanka pada tahun 1723 oleh VOC adalah pengakuan musuh atas besarnya ancaman yang ia berikan. Ia dibuang karena ia terlalu berbahaya bagi kemapanan penjajah.
Kini, gerakan Lamongan Tangi melalui penggalian spirit tumenggung ini menegaskan bahwa warisan Panji Surengrana tidak boleh berhenti pada nama rumah sakit atau tarian keraton semata. Spirit perlawanan ini harus menjelma menjadi kesadaran kolektif untuk melawan segala bentuk penindasan modern, ketidakadilan, dan upaya pemiskinan sejarah. Mengingat Karang Abang berarti menolak untuk menjadi generasi yang lemah. Kita adalah ahli waris dari para pejuang yang lebih memilih dibakar daripada tunduk, dan lebih memilih diasingkan daripada menyerah. Saatnya Lamongan bangun dan mengobarkan kembali api keberanian itu di dalam dada setiap warganya.
(Ade R)
















