LAMONGAN, Reportase INC – Keresahan melanda masyarakat dan nasabah Bank Daerah Lamongan (BDL) dalam beberapa hari terakhir.
Ini akibat memburuknya indikator kinerja keuangan serta dugaan intervensi politik dalam pengelolaan manajemen bank tersebut.
Kekhawatiran masyarakat semakin memuncak menyusul maraknya penutupan 10 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di berbagai wilayah Indonesia per Juli 2026.
Situasi ini memicu urgensi bagi manajemen BDL untuk segera memberikan klarifikasi demi menjaga kepercayaan publik.
Kecemasan masyarakat dinilai sangat beralasan setelah sejumlah data keuangan BDL terekspos ke publik. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BDL dilaporkan telah menyentuh angka 14 persen, jauh di atas batas aman yang ditetapkan regulasi.
Kondisi ini diperparah dengan angka Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang rendah, mempertegas lemahnya efisiensi dan kinerja pencapaian bank.
Tidak hanya masalah finansial, isu miring juga menerpa tata kelola manajemen BDL. Muncul dugaan kuat bahwa operasional bank kental dengan nuansa politis.
Salah satu indikasi yang disorot adalah adanya pencairan utang senilai miliaran rupiah yang polanya selalu terjadi tiga hari menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Praktik ini diduga kuat melibatkan campur tangan dari orang nomor satu di Kabupaten Lamongan.
Kabar penurunan kinerja dan isu politisasi ini langsung berdampak pada psikologis para nasabah. Rasa was-was mulai menghantui warga Lamongan yang menyimpan dana mereka di BDL.
Fauziatin, seorang nasabah asal Kelurahan Banjarmendalan, Kecamatan Lamongan, mengungkapkan kecemasannya secara terbuka terkait keamanan uangnya.
“Gak apa-apa tah BDL? Apa duit kita aman di sana?” ujarnya dengan nada cemas.
Sentimen negatif di tingkat lokal ini kian diperparah oleh rilis data nasional mengenai penutupan 10 bank yang izin usahanya dicabut oleh OJK :
1. PT BPR Suliki Sumatra Barat
2. PT BPR Prima Master Bank, Surabaya,
3. Perumda BPR Bank Cirebon,
4. PT BPR Kamadana, Bangli, Bali
5. PT BPR Koperindo Jaya, Jakarta Pusat,
6. PT BPR Agam, Sumatra Barat
7. PT BPR Ceper Klaten, Jawa Tengah
8. PT BPR Dwicahaya Nusaperkasa, Batu, Jawa Timur
9. PT BPR Yogyakarta
10. PT BPR Syariah Hasanah Mandiri, Depok,
Rentetan penutupan bank di atas menjadi peringatan keras bagi manajemen Bank Daerah Lamongan (BDL) yang kini menghadapi tantangan besar.
(Had/Red)

















