LAMONGAN, Reportase INC – Ta’mir masjid Dusun Suruhan Desa Gembong, Kecamatan Babat menggelar peringatan Nuzulul Quran (Kamis, 12 Maret 2026).
Pembicara tunggal yang dihadirkan adalah Romo Yai Alhaj Toha Chasan. Dai kondang tersebut merupakan pengasuh pondok pesantren salafiyah Hidayatussibyan Almuniriyah. “Saya terbiasa budal ceramah seorang diri. Tidak usah minta dijemput. Kasihan panitianya. Panitia itu sudah sengsara. Masak akan saya tambah kesengsaraannya dengan antar jemput saya ..?!” kelakarnya kepada Reporter media ini.
“Bahkan saya mendapat kehormatan. Di jalan raya sana sudah dikawal Banser, memberi petunjuk lokasi pengajian ini…” tukasnya kemudian.
Begitu Kiyai Toha datang, acara ceremonial dimulai. MC setempat Bang Anas, guru SDN Sumurgenuk malam itu menghentikan group terbang rebana Al-Muhibbin dari dusun setempat. Setelah kata pembuka dan qiro’ah, dilanjut sambutan ketua takmir Masjid Baiturrahman, Ustad Mua’di. Mantan Kades Gembong kini berdinas di SDN Babat 7 itu mohon maaf kepada khalayak ramai, dengan digelarnya acara secara sederhana. Malam itu Pak Mu’adi sempat memberi apresiasi positif kepada jamaah si kecil Andriyan. “Betapa sregepnya adik Andriyan ini. Sholat jamaah 5 waktu tak pernah absen. Datang lebih awal. Dipilihnya shof paling depan. Maka saya akan memberi hadiah kepada adik Andriyan yang masih sekolah di TK ini…” kata Pak Mu’adi.
Tak ayal pula tepuk tangan gemuruh mengiringi Andriyan yang menerima amplop dari Pak Mu’adi itu.
Sementara Romo Yai Toha dalam ceramahnya bertutur, bahwa ummat Islam dalam menghadapi Romadhon ada 3 kelompok. Pertama bulan Romadhon terasa sangat singkat. Kok ujug-ujug sudah hampir berakhir. “Seolah cepat datan dan cepat selesai. Ini karena disambut dengan hati senang. Kita rindu dengan bulan Romadhon” ujar si penceramah.
Kedua, bulan Romadhon kok lama sekali berakhirnya. “Kapan hari raya” demikian pengharapan orang-orang, ujar Yai Toha yang netepi ponpes di kampung Sawo, Babat itu .
Ketiga, bulan Romadhon dianggap biasa saja. Seolah gak cepat, juga gak lambat. “Serasa biasa saja, wong dia nggak puasa kok…” selorohnya disambut gerrr tertawa pengunjung. “Anehnya orang ini, sibuk mempersiapkan hari raya. Beli baju baru, rukoh baru, sarung baru, kopyah baru, jilbab baru dan jajanan di meja sangat banyak. Pada dia tidak puasa …;” ujar Si penda’i. Lagi-lagi mendapat respon dari pengunjung.
Usai ceramah sekitar 2 jam didukung Ariska sound system dari bumi Katan yang menggelegar itu langsung diakhiri doa dipimpin tokoh masyarakat setempat. Dilanjut ramah tamah. Semua pengunjung menikmati makan bersama dengan sistim piring terbang bermenu rawon mantap. ——
Reporter : AHMAD FANANI MOSAH














