LAMONGAN, Reportase INC – Pengerjaan proyek rehabilitasi jalan di kawasan Jalan Pahlawan, khususnya di wilayah Tumenggung Baru, Kelurahan Tumenggungan, Lamongan, kini tengah menuai sorotan tajam dari warga setempat. Proyek yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan akses transportasi tersebut justru dikeluhkan karena dinilai tidak tuntas dan dikerjakan secara asal-asalan. Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam bagi masyarakat yang sehari-hari melintasi dan tinggal di area tersebut.
Salah satu poin utama yang menjadi keresahan adalah dugaan adanya praktik pilih kasih dalam penentuan titik pengecoran jalan. Menurut keterangan Kaswan, seorang warga Tumenggung Baru, terdapat sisa badan jalan sepanjang kurang lebih 150 meter ke arah utara yang tidak tersentuh pengecoran rabat beton. Anehnya, meskipun tidak dicor, area tersebut sudah terlanjur dihampari sirtu atau pasir batu. Sisa sirtu yang tidak tertutup beton ini kini menjadi sumber bahaya bagi pengguna jalan, terutama pengendara roda dua, karena permukaannya yang tidak stabil dan licin.
Selain faktor keselamatan, material sirtu yang dibiarkan begitu saja telah menyebabkan polusi debu yang sangat hebat. Setiap kali kendaraan melintas, kepulan debu beterbangan dan masuk ke pemukiman serta warung-warung di sekitar lokasi. Hal ini tidak hanya mengganggu pernapasan warga, tetapi juga menurunkan kualitas kebersihan lingkungan di wilayah Tumenggungan. Warga menduga kuat adanya ketidaksingkronan atau miskomunikasi antara pihak dinas terkait dengan pelaksana proyek di lapangan, sehingga spesifikasi teknis pengerjaan tidak berjalan sesuai harapan masyarakat.
Keluhan warga tidak berhenti sampai di situ. Kaswan juga menyoroti durasi pengerjaan proyek yang dinilai sangat lambat. Penundaan demi penundaan membuat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga terganggu dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi urusan berm atau bahu jalan di sisi-sisi pengecoran yang pengerjaannya terlihat tidak serius. Bahu jalan tersebut terkesan dibiarkan tanpa pemadatan yang layak, sehingga memperburuk estetika jalan dan fungsionalitas drainase di pinggiran jalan.
Masyarakat menuntut agar pihak berwenang segera melakukan evaluasi terhadap kontraktor pelaksana. Warga berharap sisa jalan sepanjang 150 meter tersebut segera mendapatkan penanganan yang sama dengan bagian jalan lainnya agar tidak ada kesan diskriminasi pembangunan di satu wilayah yang sama. Ketuntasan pengerjaan sangat diharapkan sebelum dampak polusi debu dan risiko kecelakaan memakan korban lebih lanjut. Penanganan sirtu yang terbengkalai harus menjadi prioritas utama guna mengembalikan kenyamanan warga Kelurahan Tumenggungan yang selama ini terdampak langsung oleh proyek yang dianggap setengah hati tersebut.
(Ade R)

















