LAMONGAN, Reportase INC – “Saya tidak menyangka masjid yang megah dan mewah ini berada di dusun Kudikan, Ngareng, Sekaran, Lamongan…” ujar Romo Kiyai Haji Toha Chasan dalam petuahnya. “Ini masjid pantas berdiri di kota Surabaya” lanjut pembicara pemangku ponpes Hidayatussibyan Al Muniriyah Sawo, Babat di acara malam peringatan maulid nabi Saw (24 Agustus 2026).
Pengajian yang digelar oleh takmir masjid NU Al-Muttaqin itu dalam rangka tasyakuran selesai pembangunan masjid dan peringatan maulud nabi. “Dusun Kudikan ini hanya terdiri dari 2 RT, tapi bisa sukses membangun masjid sebesar ini, karena pola pendukungnya sangat kompak dan bersatu” kata ustadz Ilham dalam sambutannya sebagai ketua takmir masjid setempat.
Acara dipandu oleh Pak Mashudi itu menampilkan group Hadrah Terbang Rebana dari IPNU dan IPPNU Dusun Kudikan, Desa Ngareng, Kec Sekaran, yang dipimpin Alfan Ghofar yang lihai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
“Warga yang sukses di luar Jawa dan tenaga kerja luar negeri, kita sentuh dengan pendekatan. Akhirnya mereka berlomba-lomba dalam kebaikan yakni membangun masjid lama yang dindingnya sudah banyak yang runtuh “, ujar MC yang juga guru di SDN Ngareng, Pak Mashudi itu.
Tasyakuran masjid baru direhab itu sangat istimewa. Tersedia kuliner utama yakni sate, gule dan soto. Serta camilan jajanan dan buah-buahan. Semua untuk para jamaah yang hadir, tamu undangan dari anak-anak hingga orang tua. “Panitia menyembelih 2 kambing. Untuk sate dan gule” tutur ustadz Mukhlisin, bendahara masjid Jami’ NU Al-Muttaqin.
Sedangkan tausiyah Romo Yai Toha Chasan bernostalgia, bahwa dua tahun silam, dirinya ceramah di masjid ini penuh material berserakan. ” Mbangun masjid itu sulit. Lebih sulit lagi merawat dengan baik dan istiqomah. Banyak masjid lantainya tidak pernah disapu atau dipel. Kaca-kaca penuh dengan debu, sawang-sawang bergelantungan dan sebagainya” kata Yai Toha.
Masuk pada ranah maulid nabi, pengasuh ponpes Sawo itu bertutur, ada 3 ciri cinta nabi: 1. Senang menyebut nama nabi lewat sholawatan. 2. Senang meniru nabi lewat ibadah dan sunnah-sunnahnya. 3. Senang berkorban dalam rangka mencintai kanjeng nabi dengan urunan dsb. Sebagai pamungkas, dibacakan doa yang dipimpin tokoh dan sesepuh setempat, Kiyai Kusnan Marzuki.
Reporter : AHMAD FANANI MOSAH

















