LAMONGAN, Reportase INC – Tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia punya hari bumi. Kecuali orang-orang yang peduli berkutat dengan lingkungan dan alam sekitar. Ini dibuktikan oleh sepak terjangnya relawan SAE NGAOS kelurahan Babat. “Yang lebih paham adalah relawan Babat, silahkan berhubungan dengan kordinatornya, Mbah Wi Wiyoto. Setiap ada even pasti swadaya mandiri” kata Lurah Babat, Anom Priambodo, S. STP saat dihubungi lewat HPnya, karena ada acara dinas di kota kabupaten Lamongan.
Tak menunggu lama lagi, reporter media online ini segera menemui tokoh fenomemal kelurahan Babat, Mohammad Wiyoto. Di sela-sela sibuk mempersiapkan penggurugan jalan dengan memanfaatkan limbah kerukan jalan raya yang mengandung aspal, suami dari Siti Istiqomah akrab disapa Mbah Wi itu berkisah panjang lebar (Rabo, 22 April 2026).
Mapan kebetulan momen tersebut bertepatan dengan hari bumi. Tema secara nasional tahun ini bertajuk “Our Power, Our Planet” (kekuatan kita adalah planet kita). Tema resmi Hari Bumi 2026 ini mengandung makna bahwa setiap individu punya kekuatan dan peran penting dalam melindungi bumi. Rentetan berikutnya adalah mengkondisikan masa depan berkelanjutan dengan gerakan aksi nyata, kepedulian dan kolaborasi di semua lini. Inilah yang diterapkan kelompok relawan SAE NGAOS Babat yang hanya terdiri 8 orang rerata sudah berumur sepuh/udzur.
“Alhamdulillah, prinsipnya kami sebagai relawan tidak minta-minta. Tapi jika diberi, tentu tidak menolak alias mau-mau saja” kelakarnya terkekeh-kekeh hingga tampak bogang giginya.
Lantas pensiunan karyawan bagian sipil/administrasi kantor kepolisian Babat itu memberi contoh kongkrit. “Seperti misalnya kendaraan Tosa, itu dari Gusti Alloh, melalui salah satu partai langsung diantar ke tempat kami berjagong” kilah Mbah Wi dengan ekspresi semangat tinggi.
“Awal mulanya yang kami garap adalah Kali Konang. Kami cukup menyentuh hati nurani warga. Para relawan terjun langsung. Turun ke sungai. Mengeruk sampah. Akhirnya diikuti warga sekitar. Dengan kesadaran dan keikhlasannya, mereka mengeluarkan minuman wedang kopi, camilan bahkan nasi bungkus untuk sarapan pagi dan makan siang” tuturnya dengan wajar berbinar-binar.
8 (delapan) orang tergabung dalam relawan SAE NGAOS itu adalah :
1. Moch. Wiyoto.
2. Adi Prasojo.
3. Wahyuono.
4. Sungkono Bintiro.
5. Endik.
6. Muslih.
7. Agus.
8. Darto.
Lengkapnya adalah Relawan Mbah Kali Konang SAE NGAOS. Makna filosofinya, Kali Konang itu ada semenjak kita-kita belum ada. Berarti umur sungai itu sudah sangat tua. Makanya disebut Mbah Kali Konang. SAE NGAOS itu akronim dari : Shodaqoh Asline Enak. Nek Gelem Aku Obah Saged. NGAOS bernada negatif adalah : Nek Golek Amik-amik Olehe Suloyo.
Di tengah-tengah wawancara itu Mbah Wi berkisah : “Suatu ketika ada anak SD bernama Kessa. Disuruh Mbahnya membuang sampah ke Kali Konang. Untungnya si bocah itu menolak dengan alasan sungkan, banyak orang tua kerjabakti. Sikap si bocah itulah menjadi pukulan menuju kesadaran buat orang-orang agar tidak membuah sampah sembarangan.
Relawan SAE NGAOS juga pernah berkolaborasi dengan kelompok sosial asal Paris, Perancis, Sungai Watch. Kini kelompok sosial Perancis pernah sambang ke Kecamatan Babat itu punya cabang di Sidoarjo dan Pasuruan.
Reporter : Ahmad Fanani Mosah.

















